
Al-Jili
A. Biografi
Al-Jilly
Nama lengkap
tokoh ini ialah ‘Abd al-Karim ibn Ibrahim ibn ‘Abd al-Karim ibn Khalifah ibn
Ahmad ibn Mahmud al-Jilli. Ia mendapatkan gelar kehormatan “Syeikh” yang biasa
dipakai di awal namanya. Beliau terkadang disebut al-Jailani karena
dianggap masih ada hubungan deng Syekh Abdul Qadir Jailani (wafat 561 H / 1166
M) yang termasyhur itu.[1]
Selain itu juga
ia mendapat gelar “Quth al-Din” (poros agama), suatu gelar tertinggi dalam
hirarki sufi. Ia lahir pada awal Muharam (767 H/1365-6 M) di kota Bagdad,
dengan alasan bahwa menurut pengakuannya sendiri ia adalah keturunan Syeikh
‘Abd al-Qadir al-Jilani (470-561 H), yakni turunan dari cucu perempuan Syeikh
tersebut. Sedangkan ‘Abd al-Qadir al-Jailani berdomisili di Bagdad sejak tahun
478 H sampai akhir hayatnya, tahun 561 H. Dan diduga keturunannya juga
berdomisili di Bagdad, termasuk kedua orangtua al-Jilli.
Namun setelah
ada penyerbuan militerstik bangsa Mongol ke Bagdad yang dipimpin Timur Lenk,
keluarga al-Jilli berimigran ke kota Yaman (kota Zabid). Di kota inilah
al-Jilli mendapatkan pendidikan yang memadai sejak dini. Dalam catatannya, ia
menyebutkan bahwa pada tahun 779 H ia pernah mengikuti pelajaran dari Syeikh
Syaraf al-Din Ismail ibn Ibrahim al-Jabarti (w. 806 H), dan salah satu teman
seangkatan adalah Syihab al-Din Ahmad al-Rabbad (w.821).[2]
B. Karya-karyanya
Karya-karya
al-Jilli sebagaimana riwayat hidupnya tidak banyak diketahui secara pasti,
namun terdapat tiga tokoh pemikir yang melakukan penelitian mengenai
karya-karya al-Jilli. Namun, karya-karya yang ingin dikemukakan disini hanya
berasal dari penelitian pertama yang dilakukan oleh Haji Khalifah, yang
menurutnya masih mendekati originalitasnya, diantara enam karya al-Jilli
adalah:[3]
1.
Al-Insan al-Kamil fi Ma’rifat-i al-Awakhir wa al-Awail.[4]
2.
Al-Durrah al-‘Ayiniyah fi al-Syawahid al-Ghaybiyah
3.
Al-Kahf wa al-Raqim fi Syarh bi Ism-i Allah al-Rahman al-Rahim.
4.
Lawami’ al-Barq
5.
Maratib al-Wujud
6.
Al-Namus al-Aqdam
C. Ajaran Tasawuf Al-Jilli
Ajaran tasawuf
Al-Jilli yang terpenting adalah paham Insan Kamil (manusia sempurna). Menurut
Al-Jilli, Insan Kamil adalah nuskhah atau copy Tuhan, seperti disebutkan dalam
hadits :[5]
خلق الله ادم على
صورة الرحمن
“Allah menciptakan Adam dalam bentuk yang Maha
Rahman.”(HR. al-Bukhari).
Hadits lain yang
berbunyi:
خلق الله ادم على
صورته
“Allah
menciptakan Adam, dalam bentuk diri-Nya.” (HR. Al-Bukhari-Muslim).[6]
Dan secara
etimologi kata ‘Insan Kamil’ berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari dua
kalimat; al-insan dan al-kamil. Kata insan, dipandang berasal dari turunan
beberapa kata. Misalnya saja uns, yang artinya cinta. Dan ada yang memandang
berasal dari turunan kata nas, yang artinya pelupa, karena manusia sendiri
secara historis berasal dari suatu lupa dan akan berakhir dengan lupa.
Ada juga yang berpendapat bahwa itu berasal dari ‘ain san, yang artinya
‘seperti mata’. Namun dalam artian umum biasanya berarti manusia.[7]
Kata kedua,
kamil, yang artinya adalah ‘sempurna’, yang menurut Murtadla Muthahhari kata
ini sangat tepat sekali digunakan oleh al-Jilli, karena selain kata ini ada
juga kata yang mirip artinya tetapi sangat berbeda maknanya, yaitu tamam
(lengkap). Kekuatan kata kamil (sempurna), menurutnya, melebihi kata tamam
(lengkap). Karena kamil menunjukan sesuatu yang mungkin saja lengkap, namun
masih ada kelengkapan lain yang lebih tinggi satu atau beberapa tingkat, dan
itu lah yang disebut kamil (sempurna).[8]
Al-Jili merumuskan insan kamil ini dengan merujuk pada diri Nabi
Muhammad SAW sebagai sebuah contoh manusia ideal. Jati diri Muhammad
(al-haqiqah al-Muhammad) tidak semata-mata dipahami dalam pengertian Muhammad
SAW asebagai utusan Tuhan, tetapi juga sebagai nur (cahaya/roh) Ilahi yang
menjadi pangkal dan poros kehidupan di jagad raya ini.
Nur Ilahi kemudian dikenal sebagai Nur
Muhammad oleh kalangan sufi, disamping terdapat dalam diri Muhammad juga dipancarkan Allah SWT ke dalam diri Nabi Adam
AS. Al-Jili dengan karya monumentalnya yang berjudul al-Insan al-Kamil fi
Ma’rifah al-Awakir wa al-Awa’il (Manusia Sempurna dalam Konsep Pengetahuan
tentang Misteri yang Pertama dan yang Terakhir) pengertian insan al-kamil
terbagi menjadi dua yaitu:
a. Pertama, insan kamil dalam pengertian konsep
pengetahuan mengenai manusia yang sempurna. Dalam pengertian demikian, insan kamil terkait dengan pandangan
mengenai sesuatu yang dianggap mutlak, yaitu Tuhan. Yang Mutlak tersebut
dianggap mempunyai sifat-sifat tertentu, yakni yang baik dan sempurna. Sifat sempurna inilah yang patut ditiru oleh
manusia. Seseorang yang makin memiripkan diri pada sifat sempurna dari Yang
Mutlak tersebut, maka makin sempurnalah dirinya.
b. Kedua,
insan kamil terkait dengan jati diri yang mengidealkan kesatuan nama serta
sifat-sifat Tuhan ke dalam hakikat atau esensi dirinya. Dalam pengertian ini,
nama esensial dan sifat-sifat Ilahi tersebut pada dasarnya juga menjadi milik
manusia sempurna oleh adanya hak fundamental, yaitu sebagai suatu keniscayaan
yang inheren dalam esensi dirinya. Hal itu dinyatakan dalam ungkapan yang
sering terdengar, yaitu Tuhan berfungsi sebagai cermin bagi manusia dan manusia
menjadi cermin bagi Tuhan untuk melihat diri-Nya.
D. Analisis corak pemikiran al-Jili
Setelah saya meneliti corak pemikiran yang dibawa oleh al-Jili
yaitu insan al-kamil, dalam pemikirannya dia mempunyai dua pemikiraan, yakni:
a.
Insan al-kamil nuskhah tuhan
Bagi al-Jili,
manusia diciptakan adalah bentuk dari nuskhah tuhan, sesuai dengan hadits imam
Bukhari “Allah
menciptakan Adam, dalam bentuk diri-Nya.” (HR. Al-Bukhari-Muslim). Jadi pada
intinya insan kamil berhubungan
dengan jati diri yang mengidealkan kesatuan nama serta sifat-sifat Tuhan ke dalam
hakikat dirinya, dan sifat-sifat Ilahi tersebut pada dasarnya juga menjadi
milik manusia sempurna oleh adanya hak fundamental, yaitu sebagai suatu
keniscayaan yang yang ada didalam esensi dirinya.
b.
Insan al-kamil seperti nabi
Muhammad SAW
Al-Jili
merumuskan insan kamil ini
dengan merujuk pada diri Nabi Muhammad SAW sebagai sebuah contoh manusia ideal,
tidak hanya sebagai utusan Allah semata, tetapi juga sebagai nur (cahaya/roh)
Ilahi yang menjadi pangkal dan poros kehidupan di jagad raya ini. Olah karena
itulah Nabi Muhammad Saw disebut sebagai teladan insan kamil atau istilah
populernya di dalam Q.S. al- Ahzab ayat 21:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ
أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ
وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا.
Sesungguhnya
telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi
orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak
menyebut Allah.
Rasulullah SAW
memang benar-benar uswah hasanah. Rasulullah SAW merupakan insan kamil, manusia
paripurna, yang tidak ada satupun sisi-sisi kemanusiaan yang tidak disentuhnya
selama hidupnya. Ia adalah ciptaan allah yang terbaik oleh karena itu rujukan
insan al-kamil yaitu nabi SAW karena beliau makhluk ciptaan yang terbaik dan
benar-benar yang mulia.
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
Dan Sesungguhnya engkau (muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang berakhlak
mulia.(al-Qalam; 4).
DAFTAR PUSTAKA
Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, 1997, Ensiklopedi
Islam Jilid 2, Cet .IV; Jakarta : Ichtiar Baru Van Hoeve,
Mansur Laily, 2002, Ajaran
dan Teladan Para Sufi, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Mansyur H. M. Laily, 1999
Ajaran dan Teladan para Sufi, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada
Mutahhari Murtadha, 2003,
Pengantar Ilmu-ilmu Islam, Jakarta : Pustaka Zahra
Rosihan Anwar, dkk, 2004, Ilmu Tasawuf, Bandung : Pustaka Setia
[1]
H. M. Laily Mansyur,, Ajaran dan
Teladan para Sufi, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada,1999), h.234.
[2]
Rosihan, Anwar,
dkk. Ilmu Tasawuf, (Bandung : Pustaka
Setia,2004), hlm 143-144.
[3]
Laily Mansur, Ajaran dan Teladan Para
Sufi, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002) hlm. 185-187.
[4]
Ibid, 235.
[5]
Laily Mansur, Ajaran dan Teladan Para
Sufi, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002) hlm. 185-187.
[6]
Samsul Munir Amin, Ilmu Tasawuf, (Jakarta: AMZAH, 2012), h. 281-282.
[7]
Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam Jilid 2, Cet
.IV; Jakarta : Ichtiar Baru Van Hoeve, 1997, h. 227
[8]
Murtadha Mutahhari, Pengantar
Ilmu-ilmu Islam, Jakarta : Pustaka Zahra, 2003, h. 327
Tidak ada komentar:
Posting Komentar